Penantian Musim Gugur #2


bukit-biei-2-pixabay-com
Sumber gambar dari Google

“Hei, bangun!”

Kepalaku terasa amat pening, sulit sekali membuka mata. Kemudian aku melihat sekeliling, sungguh tempat yang asing.

“Lain kali kau harus rajin berolahraga. Terutama untuk sayap yang lemah itu,”

Aku terkejut melihat sumber suara, “Kau… kau bisa bicara?”

***

Silau matahari menembus celah di dahan rindang milik Mikio. Mikio, sebuah pohon tua yang bisa bicara. Aku diizinkan tinggal di salah satu dahannya sampai sayapku kuat untuk kembali terbang.

“Irie, kenalkan ini temanku, Nao. Burung Pengicau paling cantik seantero Hokkaido. Aku memintanya untuk membawakanmu buah-buahan,”

“Hai, aku Nao. Manusia menyebutku Burung Shima-enaga dan aku hanya ada di Hokkaido. Senang berkenalan denganmu,” kemudian Nao memberi buah-buahan itu padaku.

Sebelum menerimanya, aku memperhatikan wajah Nao. Rupanya ia tak memiliki alis. Lalu dengan tertawa kecil, aku menerimanya, “Sebelumnya, maaf telah merepotkanmu, Nao. Aku Burung Pleci dari Tokyo, namaku Irie,”

“Tokyo? Kau dari Tokyo? Kalau begitu, maukah kau berjanji mengajakku kesana? Ya, ya, tentu aku tahu, maksudku setelah kau pulih,” seperti namanya, burung pengicau itu berkicau tak henti.

***

Sudah hari ke sepuluh sejak aku tinggal di pohon Mikio. Sejak awal kedatanganku, aku selalu ingin bertanya mengapa Mikio sering sekali memperhatikan rumah di samping pohonnya, seperti sedang menunggu.

“Mikio,” tanyaku sambil sedikit melompat. Kupikir aku amat kecil dibanding Mikio.

“Oh, Irie, kau sudah bangun? Pagi ini kau harus latihan terbang. Nao dapat mengajarimu. Pergilah bersamanya sampai senja tiba,” seperti kilat, aku tak dapat menghentikan perkataan Mikio yang meluncur begitu cepat.

Selama latihan, rasa penasaran itu menganggu konsentrasiku. Sampai aku nyaris terjatuh untuk ketiga kalinya. Tapi seperti kata Mikio, Nao memang burung yang cekatan. Ia selalu bisa menangkapku.

“Ada apa denganmu, Irie? Kau tak fokus. Apa kau lelah?”

Sebelum aku menjawabnya, Nao sudah meluncurkan kicauan selanjutnya. “Ya, ya, kita memang sebaiknya pulang. Senja akan segera tiba,”

Tapi selama perjalanan pulang, aku menyadari ini bukan arah menuju pohon Mikio. “Kita mau ke mana, Nao?”

Lima belas menit meluncur bebas di udara, akhirnya kami sampai. Tapi mengapa di bawahku masih ada banyak tanaman, “Nao, apakah kita masih di udara?”

Mendengar pertanyaanku, Nao tampak ingin melempar biji-bijian ke wajaku. “Tentu tidak! Ini adalah Bukit Biei. Dari atas sini, kita dapat melihat hamparan bunga-bunga indah,” Nao menghirup napas banyak-banyak.

Setelah menyadari bahwa sejauh mata memandang, yang kulihat hanyalah warna-warni cantik dari bunga-bunga di Bukit Biei, aku berdecak kagum. “Wah! Apakah kau sering mengunjungi surga ini, Nao?”

“Tentu!” jawab Nao mantap. “Tapi jika kau menceritakan keindahan bunga-bunga di Bukit Biei pada Mikio, ia pasti akan marah,” sambung Nao.

“Memangnya kenapa? Apakah Mikio tak pernah mengunjungi tempat ini?” tanyaku masih dengan ekspresi mengagumi surga Bukit Biei.

“Kau lupa kalau Mikio adalah sebuah pohon?” Nao tersenyum jahil.

Benar juga, Mikio adalah sebuah pohon dan sebuah pohon tak dapat berpindah tempat semaunya. Aku dan Nao tertawa bersama.

“Nao, sebetulnya Mikio sedang menunggu siapa?”

 

 

 

Bersambung….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s