Coba Saling Mendengar


good-listener-listen-570x379
Gambar dari Google

Istilah emosi tingkat dewa, setiap orang tentu mempunyai cara sendiri untuk meredakannya. Ada yang memendam, meluapkan, membagi ke “orang terpercaya”, atau bahkan membiarkan agar emosi itu hilang dengan sendirinya.

Kalau gue, gue bukan orang yang bisa memendam. Sejujurnya melihat orang tertidur di angkutan umum dengan posisi kepala terlempar ke kanan, kiri, depan, atau belakang aja, gue bisa tertawa terbahak-bahak tanpa dosa. Jadi, memendam, masih jadi salah satu hal tersulit dihidup gue −selain roll depan.

Terus, meluapkan? Nah ini juga yang lagi gue kurang-kurangin. Kalian tahu kan melakukan hal bodoh saat sedang marah itu rasa penyesalan setelahnya bisa sedalam apa?

Membagi ke “orang terpercaya”? Yah, gue nggak pernah bisa. Sekalipun itu orang tua gue sendiri. Pasti dipikiran kalian, gue iri sama orang yang bisa membagi apa pun masalahnya ke orang tua tanpa sungkan? Enggak, bagi gue, tetap ada saat di mana “hanya gue yang boleh tahu”.

Gue lebih suka cerita “gue lihat ini dan teman gue lihat itu” daripada jawab pertanyaan, “Kenapa?”, karena… gue takut nggak didengar. Jadi, gue ambil kesimpulan, jangan mulai. Ada pengecualian sih, kalau habis liat cowok ganteng, tetap aja gue nggak pernah malu buat nyebar ke beberapa orang. Giliran ditanya, “Serius suka?” tapi malah cuma “Hahaha” yang keluar. Skip.

Yang terakhir, membiarkan agar emosi itu hilang dengan sendirinya? Iya, ada yang sama?

Sebenarnya gue lagi ada masalah yang bikin gue nggak mau keluar rumah kecuali gempa bumi. Dan baru kali ini gue merasa kalau orang tua gue paham. Nyokap tahu kalau ada sesuatu yang buat gue marah tapi setelah pertanyaan, “Kenapa sih?”-nya nggak gue jawab, dia nggak pernah nanya lagi. Sekalipun dia tahu dari orang lain, tapi gue rasa dia percaya sama gue.

Buktinya, dia berusaha seolah nggak terjadi apa-apa, dia tetap cerita hal lain ke gue tapi nggak berusaha ngulik apa pun. Gue tahu dia mikir kalau gue udah cukup dewasa buat nyelesain masalah sendiri. Sip, gue merasa amat dihargain; cukup nggak perlu ikut campur, meski semua ada batasnya.

Ternyata watak manusia beragam, ya? Saat banyak orang mengeluh karena nggak pernah ditanya “kenapa”, ada sebagian orang yang justru nggak mau ditanya “kenapa”. Sebenarnya, gue juga nggak bisa pungkirin kalau sesuatu terjadi pasti karena alasan −yang tentu membutuhkan jawaban. Tapi setelah tahu kalau diluar sana nggak cuma 1 orang yang seperti gue, kalian nggak bisa paksain apa-apa sampai orang itu membuka diri. Bukan, bukan perihal memaklumi. Tidak semua orang bisa memaklumi dengan porsi yang sama. Apa kalian pernah sadar, saat seseorang diminta memaklumi sifat orang lain, sesungguhnya ia terluka? Maka, cukup beri waktu. Bagi gue, memberi waktu adalah hal terpengertian yang pernah diberikan seseorang.

Pelajaran baru lagi nih, kalau ternyata belajar menjadi pendengar yang baik itu penting, yah, sekalipun yang kalian dengar hanyalah desahan napas orang lain. Gue, dan kalian, harus banyak belajar mendengar agar suara kita juga didengar, agar semua orang punya kesempatan untuk bicara, agar nggak ada lagi orang yang menutup diri, dan agar saat kita berjalan, nggak ada lagi suara-suara yang hanya terdengar di belakang..

Advertisements

10 thoughts on “Coba Saling Mendengar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s