Penantian Musim Gugur #1


mtf_vudyf_117
Sumber gambar dari Google

“Musim gugur akan tiba dua minggu lagi!”

Sorak-sorai suara manusia menggema di langit Kota Tokyo. Hampir semua penduduk menyambut suka cita datangnya musim gugur. Tapi, tak sedikit yang bermuram durja. Para pelajar, misalnya, karena mereka harus mengatakan selamat tinggal dengan libur musim panas dan kembali berkutat dengan rutinitas dan kewajibannya sebagai pelajar.

Pagi ini, aku berencana meninggalkan Tokyo. Aku ingin mengunjungi tempat-tempat yang menarik untuk dinikmati saat musim gugur tiba. Tapi, sebelum itu aku ingin mengunjungi tempat terbaik di Tokyo, yaitu kedai kopi yang berada di sudut kota.

Kota Tokyo yang tak pernah tidur membuat kedai kopi ini menjadi kasur ternyaman bagi manusia yang menantikan mimpi indah. Ditambah aroma kopi yang khas, yang sudah tercium bahkan sebelum pembeli sampai ke tempat itu.

“Aku ingin musim panas lebih panjang lagi,” seorang gadis ─yang kutebak masih duduk di bangku sekolah─ meletakan buku-buku di atas meja dengan amat kasar. Mungkin, lebih tepatnya, membanting. Aku mengutuk gadis itu karena membuat jantungku nyaris copot. “Apakah di sekolahnya tak diajarkan sopan santun?”

Tapi, tiba-tiba amarahku mereda ketika mendengar obrolan sepasang manusia yang duduk berhadapan di tepi jendela. “Sepertinya menarik!” ucapku dalam hati.

Dari tempatku berada, mereka terlihat amat manis. Bunga-bunga plastik berwarna-warni di atas pot-pot kecil di tepi jendela seolah menjadi bingkai dan mereka adalah lukisannya.

Mimik wajah sang pria seolah sedang menunggu sang wanita bicara. Bahkan ia terus menatap wajahnya dan tak sedikit pun mengalihkan pandang.

Seraya mengikat rambut ikalnya, akhirnya yang ditunggu mengeluarkan suara, “Hari pertama di musim gugur, aku akan mengunjungi rumah Ibu. Aku ingin melihat bintang-bintang yang berjatuhan dari langit,”

Kemudian sang pria menunjukkan seulas senyum, “Kau masih menyukai pohon maple?”

Baru saja ketika aku ingin mendekat, tiba-tiba tubuhku terseret oleh kekuatan alam yang amat dahsyat. Aku terlempar!

Meski sempat memegang erat sebuah tangkai, sayangnya, tak bertahan lama. Tangkai itu pun pada akhirnya tak cukup kuat menopangku.

“Syuuuurr!” aku pasrah terbawa angin.

Bersambung….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s