Cerita yang Selesai


9e3b021fa97cbc730984aec9371bdde7
Sumber gambar dari Google

Tuan Putri nyaris sampai di halaman terakhir. Ya, nyaris, karena Tuan Putri masih berpikir untuk menambahkan titik. Tapi jika Tuan Putri tidak menginginkan titik, itu sah-sah saja. Mungkin koma, jika Tuan Putri ingin melanjutkan ceritanya. Mungkin saja tanda tanya, jika Tuan Putri masih menanti sebuah jawaban dari cerita yang sudah lalu. Atau mungkin tanda seru, di mana tidak ada seorang pun yang tahu apakah berakhir marah atau suka cita, jika seseorang itu tidak membaca 364 halaman yang lain. Dan sambil berpikir, Tuan Putri melemparkan pandang ke benda-benda di sekitar.

Pertama, matanya tertuju pada pensil yang digenggamnya. Lalu Tuan Putri teringat begitu banyak cerita yang telah ia tuliskan. “Cerita apa saja yang telah kau tulis, Tuan Putri?” tanya Sang Pensil. “Aku hanya ingin kau pakai untuk menuliskan cerita bahagia!” sambung Sang Pensil. Tuan Putri tertawa, “Kau pikir hidup hanya bercerita tentang kebahagiaan? Lalu untuk apa Tuhan menciptakan air mata?”.

Tuan Putri sebal. Ia lalu menatap penghapus. “Kau semakin kecil. Aku berutang banyak padamu, kau amat baik,” tutur Tuan Putri. “Bukankah hidup memang seharusnya begitu, Tuan Putri? Meski pensil itu akan selalu berbekas, tapi aku akan berusaha untuk menghapus cerita-cerita yang tak ingin kau tuliskan. Untuk itu, jika tidak untuk kau jadikan pelajaran, jangan menulis kesedihan bahkan cacian, karena itu akan tertulis jelas, dan aku akan sulit menghapusnya.” jawab Sang Penghapus.

Dengan perasaan bersalah, Tuan Putri lalu mengalihkan pandang menuju penggaris. “Aku penuh peraturan, Tuan Putri.” ucap Sang Penggaris. Tuan Putri bingung, “Ya, aku tahu. Lalu kenapa?”. Dengan merajuk, Sang Penggaris menjawab. “Aku ingin tanya, untuk apa kau buat garis tepi jika kau menulis cerita melebihi garis? Sama halnya dengan hidup, Tuan Putri. Semua ada batasnya, jangan hidup melanggar aturan!”.

Tuan Putri terdiam. “Halo, Tuan Putri! Ada apa? Apa aku boleh tahu? Selama ini aku selalu tahu hal-hal penting!” tanpa diduga, Sang Stabilo mengajak Tuan Putri bicara. “Aku sedih karena Sang Pensil dan Sang Penggaris sepertinya marah padaku. Aku juga merasa bersalah pada Sang Penghapus,” jawab Tuan Putri sambil tertunduk. “Ah, sudah jangan dipikirkan. Sebaiknya kau mengenang peristiwa penting dalam hidupmu, carilah cerita-cerita yang kau tandai menggunakan aku!”

Tuan Putri lalu mulai mencari peristiwa penting yang ia tulis. Beberapa saat ia tertawa, termenung, tertawa lagi, dan begitu seterusnya. Sampai ia sadari bahwa ada satu benda yang terlupakan. Buku. Buku yang terdiri dari 365 halaman. Di sanalah tertulis semuanya. Kebahagiaan, kesedihan, bahkan cacian. Dilihatnya bentuk fisik Sang Buku, “Kau sudah usang,” kata Tuan Putri. “Maka segera akhiri ceritamu, Tuan Putri. Sudah saatnya kau memulai lembaran baru, tapi jangan lupa untuk menyimpanku agar kau bisa kembali membaca cerita-ceritamu.” jawab Sang Buku.

Tuan Putri lalu menyelesaikan ceritanya.

 

Note:

Selamat tahun baru, teman-teman! Seperti Tuan Putri, apakah kau telah menyelesaikan ceritamu? Lalu apa yang kau pilih sebagai akhir? Titikkomatanda tanya, atau tanda seru?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s