Usia


tumblr_mng1v9aX7I1r9bgcro1_500

Sumber foto: http://imgfave.com/collection/175335/Best-friends-forever

Beberapa hal ditakdirkan untuk selalu berkembang, bertambah, berubah atau bahkan berkurang. Usia, contohnya.

Usia manusia bertambah maka sisa hidupnya berkurang. Namun pola pikir serta tingkah lakunya pasti berubah dari waktu ke waktu dan keadaan fisiknya pasti terus berkembang dari masa ke masa.

Minggu sore yang lalu, ketika saya berada di dalam kereta commuter line (KRL) tujuan Bekasi-Bogor, saya menyaksikan usia memainkan perannya. Membuat saya termenung dan berpikir cukup lama. Begini ceritanya.

Keadaan gerbong 4 waktu itu tidak terlalu ramai, semua penumpang mendapatkan tempat duduk. Tiba di Stasiun Kampung Bandan, ada sembilan orang yang naik, empat di antaranya adalah laki-laki, empat lainnya adalah perempuan, dan satu orang adalah anak laki-laki ─yang saya yakini sebagai salah satu anak dari mereka. Memang tidak terlalu banyak, tapi mereka memiliki postur tubuh yang lumayan besar sehingga suasana gerbong kala itu menjadi cukup ramai bagi saya. Apalagi mereka berdiri berkumpul di dekat pintu keluar, kecuali anak laki-laki itu yang duduk karena kesukarelaan salah satu penumpang. Jika boleh mengira, usia mereka saya taksir sekitar 35 sampai 40 tahun dan anak laki-laki itu sekitar 6 atau 7 tahun.

Mereka sibuk bercanda gurau, membahas lalu menertawakan sesuatu yang sepertinya telah lama terjadi. Mereka menyebut papan tulis, seragam, ujian, bolos, dan guru. Saya tidak asing; sekolah. Sampai sini, jika boleh mengira lagi, saya rasa mereka adalah teman sekolah yang mungkin sedang berkumpul untuk reuni.

“Bentar lagi pada turun? Nanti kabar-kabarin kalau udah sampe, ya. Hati-hati, masih kangen gue,” ujar salah satu perempuan dari mereka.

“Gue bukan kangen, gue shock liat lu pada udah berubah dari zaman sekolah dulu. Hahaha” jawab salah satu laki-laki dari mereka.

“Iye si Gun, dia bisa punya anak ye sekarang. Robi nggak malu kan punya Papa kayak Papa Gun?” celetuk salah satu laki-laki dari mereka. Semua tertawa, anak laki-laki itu pun tersenyum tak mengerti.

Sampai di Stasiun Duri, delapan orang dari mereka turun hingga tersisa satu perempuan dari mereka yang akhirnya duduk di tempat anak laki-laki itu, di depan saya. Tidak lama setelah kereta berangkat meninggalkan Stasiun Duri, perempuan itu mengusap air matanya lalu tersenyum menatap satu kotak donat J.Co isi 12 yang ia bawa.

“Teman lama ya, bu?” tanya penumpang lain di sebelahnya.

“Eh iya, genk zaman sekolah dulu. Terakhir ketemu 2008, rumpi banget ya, bu? Hehehe maaf, ya..” jawabnya.

Usia memang berubah, mereka tidak lagi muda tapi pertemanan mereka tidak pernah tua.

Begitu juga dengan kita, jika empat hari yang lalu usia saya bertambah satu tahun dan sisa hidup saya juga berkurang satu tahun tapi saya ingin pertemanan serta persaudaraan kita masih kuat untuk lebih dari seribu tahun. Kita memang dibuat iri, pertemanan mereka ‘melengkapi’ dan mudah-mudahan akan terus abadi.

Lewat cerita singkat ini, saya ucapkan terima kasih untuk tali pertemanan bahkan persaudaraan yang telah kita jalin. Untuk semua cerita yang sampai tua akan terus saya kenang. Untuk semua harapan dan doa yang kalian lantunkan di hari ulang tahun saya. Serta untuk semua kado-kado manis yang membuat saya tersenyum setiap melihatnya.

Note:

Jangan tanyakan siapa ‘kita’, karena salah satu dari ‘kita’ adalah kamu yang sedang membacanya. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s