Berkeliaran di Sukabumi


Postingan kali ini gue mau ceritain jalan-jalan kemarin ke Sukabumi sama teman-teman kampus. Rencana awalnya sih mau ngerayain tahun baru bareng, berhubung terlaksananya baru di tanggal 19-21 Januari, rencananya berubah menjadi ngerayain ‘semester baru bareng’.

Kami naik kereta api siliwangi ekonomi dari Stasiun Bogor sampai Stasiun Sukabumi yang dibandrol dengan harga Rp20.000. Dari Stasiun Sukabumi, kami (gue dan 14 orang) naik mobilnya Aa Syamsul (pribumi atau pria asli Sukabumi yang kemudian rumahnya akan menjadi tempat teman-temannya berlabuh). Mobil apa ya yang nampung 15 orang sekaligus? Yang pasti AC dan supirnya sama-sama adem, deh. 🙂

Karena kami masih menggandeng status mahasiswa yang dompetnya pas-pasan, jadi 3 hari 2 malam ini kami habisin untuk jalan-jalan ke tempat yang murah, nyegerin mata setelah sumpek liat dosen, dan aksesnya manusiawi karena cewek paling cantik  dirombongan itu (baca: Nanda) nggak bisa diajak jalan terlalu menanjak dan menurun.

Tapi sebelum berkeliaran di Sukabumi, malam saat kami sampai di sana (sekitar pukul 21.00), kami nyempetin kongko di kedai makanan. Kata Aa Syamsul sih (bacanya pakai logat Sunda ya biar mirip), “pakai baju santai aja, deket kok di depan, tempat nongkrong gitu,” maka mayoritas dari kami memakai baju tidur dilapisi jaket. Sebelum lanjut, berlandaskan perkataan Aa Syamsul, kalian setuju nggak kalau kami cuma pakai baju tidur dilapisi jaket?

Ternyata, deketnya itu mesti naik angkot Rp3.000 dan tempat nongkrongnya itu terhitung seperti foodcourt. Emang nggak bisa dibandingin dengan foodcourt-foodcourt di Jakarta, tapi seenggaknya mojang-mojang Sukabumi pada nongkrong disitu dan kami datang begitu polosnya memakai baju tidur…….. Salah kami sih, harusnya kami udah curiga kenapa Aa Syamsul pakaiannya paling rapi sendiri (selain Charis dan Tengku yang belum mandi dan ganti baju)…. 🙂

img_4443
Untung celana dan sandalnya ketutupan meja yah 🙂

Setelah tidur dengan nyenyak, paginya kami “ingin main air yang murah”. Karena di bak mandi nggak cukup dan kolam renang kemahalan, abis sarapan akhirnya kami putuskan ke Pondok Halimun. Dengan tiket Rp2.000/orang, kami bisa main air secukupnya (karena sampai sana cuma kaki doang yang basah).

img_4502

Udah basah, kami butuh tempat yang banyak anginnya. Jadilah kami ke wisata paling legendaris di Sukabumi yaitu Selabintana. Dengan tiket masuk Rp5.000/orang, kami bisa ngeringin kaki sepuasnya. Sempat bertanya-tanya sih sebenarnya ini tempat bener-bener luas di mata gue doang atau gimana. Karena sejauh mata memandang, tempat ini cuma hamparan rumput nan hijau. Gue takut area bermain seperti tornado, halilintar, dan bianglala, nggak terlihat di mata gue. Tapi setelah memastikan lewat kacamatanya si Aji dan Aa Syamsul, tempat ini emang cuma hamparan rumput doang… 🙂 😦

Hamparan rumput dan pohon-pohonnya tampak seperti ini (si Vitka diemin aja, nggak usah diajak main).

img_5107

Di ujung sana, di belakang Vitka, ternyata ada spot yang Instagramable gitu, kayak gini (Nida diemin aja, tapi jangan dilepas, ntar gelinding).

img_4690

Harusnya sih kalau kami makan-makan di sana lebih seru ya secara tempatnya udah pas, tapi kami nggak bawa makanan dan nggak mau beli karena nggak bakalan kenyang (di sana ada warung-warung kecil di pintu masuk dan banyak pedagan asongan yang jual kopi atau pop mie). Akhirnya sebelum pulang, kami melipir ke tempat-tempat yang jual makanan. Meski Aa Syamsul lagi-lagi menyebalkan karena nggak bilang kalau tempat ini berada di tengah-tengah SD, SMP, dan SMA paling hits di Sukabumi. Nama daerahnya, Dago.

Meski nggak kayak Dago versi Bandung, tapi kuliner di Dago versi Sukabumi ini nggak kalah kece sampai nggak ada dokumentasinya satu pun. Ini membuktikan di sana kami benar-benar makan. 🙂

Terusss karena kembali ke rumah Aa Syamsul sudah menjelang petang, malamnya kami nggak kemana-mana, mau istirahat buat besok pulang. Tapi gagal karena kami begadang nonton Suzanna. Nggak ada dokumentasinya juga. Iyalah, apa yang mau difoto kalau orang-orangnya pada ngumpet di balik selimut? 🙂

Sampai ke saat pulang, kami naik kereta yang sama dan misah tujuan setelah sampai di Stasiun Bogor. Dan yang nggak boleh ketinggalan untuk diceritain adalah oleh-oleh mochi yang kami bawa. Sayangnya, blog gue bukan situs bukalabak atau elebenia. Ya pokoknya kalau ke Sukabumi jangan pernah lupa buat beli Mochi Lampion!!!!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s