Dufan Bareng Accsaro


“Lebih baik menjadi burung yang terbang bebas daripada menjadi raja dalam belenggu.”

Kata-kata itu kayaknya tepat banget buat anak kelas XII yang lagi menunggu masa-masa ujian nasional, tapi mau seneng-seneng dulu. Dan anak kelas XII itu adalah gue dan Accsaro.

Tapi karena kalau mau refreshing ke luar kota uangnya nggak cukup, akhirnya gue sama Accsaro milih Dufan. Selagi ada diskon karena pakai kartu pelajar, jadi cuma bayar Rp95.000 dan Rp25.000 untuk masuk Ancol.

Tulisan kali ini gue mau ceritain kejadian-kejadian lucu disetiap wahana. Bukan lucu sih, tapi ini lebih ke “Kok begini amat ya?”. Semoga beberapa tahun lagi gue baca, tulisan ini bisa jadi kenang-kenangan dan semoga kalian kebayang betapa malunya orang normal (baca: Nanda) saat berada di tengah kejadian ini.

dscf8317

Ontang-anting: Sumpah serapah selama 3 tahun gue sekelas sama ini anak, gue baru tau kalau Indra hatinya hello kitty. Dia takut ketinggian, dia paling heboh di sini dan dia yang paling jarang naik wahana. Tapi pas pulang, bisa-bisanya dia jadi paling lemes.

Halilintar: Yang gue inget Nurul, dia emang berusaha inget Yang Kuasa saat naik ini, sampai-sampai yang terucap, “Ya Tuhan Ya Tuhaaan Ya Tuhaaannnn eh salah Ya Allah Ya Allah Ya Allahhhhhh!!!”. Nggak masalah sih, cuma berasa lagi ikut dzikir akbar aja.

Tornado: Dimulai dari Defi yang katanya pusing tapi pas naik ini tiba-tiba bersiap ngantri paling depan. Terus Dito yang komat kamit “Bismillah..” pas dimulai “Ya Allah Ya Allah Ya Allahhh” sampai Ucun yang teriak “Bapak bapaaakkk bapaaaakkkk!!!!”

Alap-alap: Halilintar mini ini ngebuat Pejewe layaknya piala oscar. Dia teriak-teriak “Huu seruuuu huu lagi lagiii huuu” bahkan dia melepas tangannya dari pegangan yang disediakan. Gimana ya… seneng sih boleh cuma ya…

Niagara: Tyas, Galuh, dan Dito, emang paling batu dibilangin. Dikata jangan nunduk ya jangan nunduk. Udah tau mau meluncur, udah tau bakal teriak, kenapa kalian pakai nunduk? Mulut kemasukkan air terus gigi pada kepentok kan?

Istana Boneka: Gue udah seneng karena di wahana ini doang yang kayaknya Accsaro pada normal. Tapi pas diliat-liat, ternyata ada satu foto di kamera yang menangkap foto Eka dan Bowo. Awalnya biasa aja, tapi lama-lama diliatin suasana gelap di wahana ini membuat wajah Eka dan Bowo difoto jadi amat cabul dan membuat mereka tampak seperti Mayangsari dan Bambang…

Kicir-kicir: Tingkat kebelaguan anak Accsaro ada di wahana ini. Semua pada ngaku berani, tapi pas ngantri yang berdiri cuma Desno sama Janu. Masalahnya itu belagunya itu belagu banget. 🙂

Banyak lagi yang lainnya, tapi sayangnya nggak tega ngebuat kalian nunggu loading page ini. Ditambah ada situasi di mana Mutia yang tak kunjung tinggi itu hilang entah kemana dan setelah ketemu, 3 anggota dari Korean hilang.

Setelah nunggu lama ternyata mereka ada di pintu keluar dan sukses membuat kami semua bete. Dan dengan polosnya, Si Joki bilang “Ahelah temen lu noh!”. Padahal dia leadernya.

Terussss kami pulang setengah 7. Setelah 15 menit nunggu busway, kami diberi tau kalau busway nggak beroperasi dan baru beroperasi 1 jam lagi ((senyumin aja)). Akhirnya kami memutuskan dan mungkin memutuskan dengan suara lantang untuk naik kereta itu terlalu keras akhirnya kami pulang dan banyak yang ngikutin kita. Kami semua naik mikrolet M15.

Kondisi angkot nggak usah dideskripsiin lagi lah ya. Intinya, Agil, Dito, Indra, Janu, gantung tuh kayak kenek. Sementara Indra sama Desno jongkok sebelah kaki. Malah samping supir diisi oleh 3 orang; Umi, Ika, dan Mutia.

Plis gue mau ngakak. 🙂

Advertisements

One thought on “Dufan Bareng Accsaro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s