Kata Ayah dan Ibu, Aku Itu….


Semua orang pasti pernah bertanya-tanya seperti apa dirinya di mata orang lain. Bagaimana kehadirannya di kehidupan orang lain, apakah membuat hidup orang lain menjadi berwarna atau sebaliknya. Tapi ada juga pepatah lama yang mengatakan “Jangan dengarkan pendapat orang lain karena hidupmu bukan hidupnya.”

Nah, gara-gara itu gue jadi alihin niat buat nanya ke orang-orang tentang ke orang tua. Kenapa ke orang tua? Karena orang tua bukan orang lain ((hmm)) dan pendapat orang tua emang satu-satunya pendapat ya kemungkinan besar akan gue denger.

Sayangnya, jawaban yang gue dapet nggak semulus harapan gue. Ayah dan Ibu gue mikirnya lama banget. Apa mungkin pertanyaan, “Menurut Ayah dan Ibu, aku itu kayak apa?” lebih sulit dari aljabar abstrak?

Sampai ketika gue udah mulai lupa dan nggak tertarik sama jawaban mereka, mereka akhirnya jawab pertanyaan itu tepat saat gue ulang tahun ke 12. Dan jawabannya berupa buku. “Buku harian Ayah dan Ibu,” katanya.

Kalau dipikir-pikir, buku itu jadi pedoman gue tumbuh juga sih. Apalagi gue terima waktu gue genap berumur 12 tahun. Bagi gue, usia tersebut adalah usia di mana gue mulai memasuki dunia remaja. Waktu itu, pertanyaan “Aku cantik nggak sih? Ayah dan Ibu sayang aku nggak sih? Orang lain suka sama aku nggak sih?”  mulai memenuhi kepala gue. Krisis kepercayaan diri.

Lewat tulisan ini, gue mau sharing isi tulisannya. Semoga bisikkan kedua orang tua gue juga kalian dengar melalui orang tua kalian. Kalau mereka nggak mengutarakannya lewat bibir, kalian harus percaya bahwa hatinya amat riuh meneriakannya. 🙂

 

Hari ini 15 Februari 1996, ini hari pertamaku melihat dunia. Wah, dunia ini indah sekali. Aku mulai melihat sekelilingku dari dekapan Ibuku.

Namaku Nanda Febriani, nama yang indah pemberian Ayah dan Ibuku, aku adalah anak ke satu dari Ayah dan Ibuku, Supriyanto dan Iis Rusmani. Hari ini aku lahir di Jakarta dibantu oleh dr. Nasir dan Bidan Sudiyati. Aku adalah bayi perempuan yang dilahirkan pada jam 07:30 WIB dengan berat badan 2900 gram dan panjang 48 cm.

Dihari-hari pertamaku, aku belum bisa banyak bergerak dan berbuat apa-apa. Aku hanya minum susu dan tidur, tapi disela-sela itu aku juga mulai memerhatikan suasana disekitarku. Aku sudah tidak sabar menunggu esok hari, karena besok aku akan dibawa oleh Ayah dan Ibuku pulang ke rumah kami. Aku tidak tahu seperti apakah rumah kami itu, tapi aku yakin itu pasti suatu tempat yang menyenangkan untuk dihuni.

Akhirnya sampai juga aku dirumahku di Jl. Nusa Indah II/300 RT 009/013 -Malaka Jaya, Jakarta Timur. Rumahku indah sekali dan telah dipersiapkan untuk menyambut kehadiranku. Seluruh isi dan hiasan di rumahku seakan-akan berkata, “Selamat  datang, Nanda”.

Ayah dan Ibu membawaku ke kamar yang telah khusus dipersiapkan untukku. Kamar yang indah sekali, rasanya aku betah berlama-lama di dalamnya.

Aku sangat mencintai Ayah dan Ibuku, dan merekapun mencintaiku. Mereka selalu berbisik di telingaku, “Kami sangat mencintai dan menyayangimu, Nanda”. Mereka menggedongku, membelai dan menciumku dengan kasih sayang. Walaupun aku kadang-kadang menangis tiada henti, tapi mereka tetap mencintaiku.

Pada minggu-minggu pertamaku, aku sering mendapat kunjungan-kunjungan. Saat berkunjung mereka selalu tersenyum dan membelaiku sambil berkata, “Nanda, kamu anak yang manis sekali”. Aku juga pertama kali dikunjungi oleh Kakek dan Nenek, mereka orang pertama yang mengunjungiku, aku mencoba tersenyum manis pada mereka karena aku sangat menyukai mereka.

Selain mendapat kunjungan-kunjungan, aku juga banyak mendapat kartu-kartu ucapan dengan tulisan “Selamat atas kelahiran Nanda”. Disamping itu aku juga banyak mendapatkan hadiah-hadiah baju-baju mungil untukku ataupun mainan-mainan yang lucu-lucu untuk menemani saat aku terjaga.

Dengan berjalannya waktu, akupun tumbuh semakin besar pula. Setiap hari ada saja kepandaianku bertambah dan aku tahu Ayah dan Ibu bangga akan kepandaianku. Setiap hari ku perhatikan jari-jari tangan dan kakiku tumbuh seiring dengan pertumbuhan di bagian tubuhku yang lain. Pertumbuhan ini membuat tubuhku semakin kuat untuk belajar hal-hal baru setiap hari.

Tak terasa aku makin besar, sebentar lagi aku akan merayakan pesta ulang tahunku. Ayah dan Ibu sibuk dengan persiapan-persiapan agar ulang tahunku dapat berjalan dengan meriah.

Dengan bertambah besar badanku dan bertambahnya umurku, banyak perubahan telah terjadi pada diriku, tapi ada satu yang tidak pernah berubah. Ayah dan Ibu masih berbisik di telingaku “Nanda, kami mencintai dan menyayangimu”.

Advertisements

4 thoughts on “Kata Ayah dan Ibu, Aku Itu….

  1. coool, kamu mendokumentasikan kenangan indah saat kecil bersama kedua ortu … itu sangat dahsyat, terutama nanti saat mereka tak lagi bersama …. gooodjob … ayo nulis teruuus, ajari teman yg mau belajar juga yaa … tulisan kamu bagus nandaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s