Sedingin Surabi Khas Bandung


Berdasarkan ingatan yang berlandaskan fakta, meski ditulis dua tahun setelah kejadian:

Dalam rangka study tour dan perpisahan siswa kelas IX, SMP paling kece dan irit di Cileungsi, memilih Bandung sebagai latar kedua yang akan terngiang kalau muterin lagu Kisah Kasih di Sekolah-nya Chrisye.

Kali ini gue cuma mau nyeritain suatu peristiwa yang gue alamin di Bandung.

Tapi sebelumnya gue nggak mau ngasih tau kalau kunjungan wisata 2 hari 1 malam ke Bandung itu cuma ngunjungin Museum Asia Afrika, Gedung Sabuga, Kawah Putih dan kebun strawberry tak bernama, hingga nginep di salah satu hotel yang lokasinya mepet-mepet ITB ─tapi tetep nggak bikin gue bisa bawa pulang seorang pun Aa dari Bandung.

Kenapa kok mau nyeritain? Yah, sedih aja kalau gue mengenang seorang diri. Siapa tau ada satu di antara orang-orang yang terlibat yang akhirnya baca, kan jadi ngenang bareng-bareng. Atau bahkan orang lain nun jauh di sana yang abis baca jadi merasa ikut ada di malam itu juga. Bisa aja, kan? Intinya, ingin berbagi perasaan dan pengalaman.


Peristiwa itu dimulai pukul 20.45 WIB.

Di malam dingin Kota Kembang, gue yang udah sedikit songong sama guru, malah jadi tambah songong. Bukan karena nggak ngerjain tugas, tapi karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang menakjubkan itu membuat muka gue dihafal sama beberapa guru. Sialnya, salah satu guru itu tetangga gue. Tapi karena guru itu nggak ngadu ke nyokap gue, jadi gue masih sering doain guru itu.

Berdasarkan agenda, malam itu sekolah gue lagi bikin acara di lobi hotel. Acaranya karaokean bareng. Yang nyanyi boleh guru, boleh siswa. Ada jamuan makanannya juga, jadi ngemil diiringin  nyanyian. Tapi karena menurut gue itu terlalu bising, gue cuma ngerem aja di kamar bareng Dedes, Diah, Irus, Muti, Sekar, dan Sella. Terus tiba-tiba, gue ingin makan surabi. Dan kala itu, pacar gue yang baik hati ─semoga dia baca terus beliin gue surabi lagi─ bilang kalau temen-temennya mau keluar. Udah seneng nih karena bakal dibeliin, tapi jadi lebih seneng lagi karena ternyata gue diajak ikut buat sekalian jalan-jalan.

Sayangnya, karena kadar bandel gue masih 21%, gue nggak mau ikut, takut cewek sendiri. Tapi karena setan selalu mendukung niat bandel, di antara banyaknya temen pacar gue yang mau keluar itu, ada pacarnya Diah, Sella, dan pacar-pacarnya temen gue yang lain. Karena rata-rata pada ngajak pacar, kalau gue nggak ikut udah pasti pacar gue terlihat kurang kasih sayang, akhirnya gue ikut.

Pukul 21.00 WIB, dengan melihat pintu utama aman nggak ada guru, kurang lebih 10 pasangan dan beberapa orang tanpa pasangan berlari damai keluar hotel.

Fakta kurang akurat karena gue lupa apa nama tempat surabinya, yang pasti lumayan jauh dari hotel. Apalagi karena kita milih jalan dengan embel-embel nyari angin. Andai aja malam itu dinginnya bisa bersahabat, gue duga bakal jalan lebih jauh lagi. Untungnya, dingin.

Jadilah tuh pada makan sampai kenyang. Gue bungkusin buat Dedes, Irus, Muti, dan Sekar. Muti sama Sekar nggak mau ikut soalnya lagi patah hati. Dedes sama Irus milih nemenin mereka karena nggak tega. Tanpa bermaksud nggak setia kawan, nggak tau kenapa gue, Diah, dan Sella jadi agak merasa bersalah, akhirnya kita bungkusin surabi.

Pukul 23.00 WIB, kami pulang. Karena udah lelah dan takut surabinya dingin, akhirnya pulang nyarter angkot. Damai deh tuh, udah ngebayangin pas sampai bakal langsung tidur. Tapi ternyata, gue disambut barisan manusia. Dari jauh udah samar-samar nebak, “Apaan tuh di depan pintu utama?”. Semakin dekat, semakin jelas, ternyata itu adalah barisan guru yang menyambut di depan pintu utama.

Byuar!!!!! Nyebar semua.

Yang tadinya jalan berpasangan jadi sesuai jenis kelamin. Jadi kayak barisan akhwat dan ikhwat yang terpisah hijab. Ya gimana ya, ingin kabur tapi kaki kaku. Ingin teriak tapi suara sama muka nggak mau ketahuan. Belum lagi ada beberapa anak yang berusaha mencari celah di belakang guru-guru. Gue duga mereka langsung lari ke kamarnya masing-masing sambil teriak, “Hot news!”

Bisa diraba-raba aja kan yah gimana kelanjutannya?…..

Intinya, malam itu menjadi amat dingin, sedingin surabi khas Bandung ─yang awalnya cuma gue pesen 3, akibat tragedi persebaran manusia secara tiba-tiba membuat surabi yang gue pegang bisa ada 5.

Advertisements

One thought on “Sedingin Surabi Khas Bandung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s